Seorang pemuda menanam pohon berduri di depan rumahnya. Seseorang menyuruh si pemuda untuk memotong pohon tersebut dengan kapak, khawatir akan bahaya yang tidak hanya mengancam keselamatan si pemuda tapi juga para pejalan yang kerap lewat di depan rumahnya. Saat duri telah keluar nanti, ia akan melukai kakinya dan orang-orang. Belum lagi bahaya lainnya. Namun sialnya pemuda ini menganggap enteng dan terus saja menunda untuk menebangnya. Waktu berputar tanpa henti. Bulan berganti Tahun. Pohon berduri tumbuh besar, akarnya menghujam jauh ke bumi. Dahan dan rantingnya menjulur kesana kemari. Si pemuda sendiri sudah menjadi kakek ringkih.
Ketika sadar duri pada pohon telah melukai dirinya dan orang-orang, si kakek ringkih segera mengambil kapak. Hendak menebang pohon berduri. Namun ayunan kapaknya bahkan tidak mampu mengores kokohnya batang pohon. Usia uzur si kakek telah merenggut kekuatannya untuk menumbangkan hasil tanamannya sendiri.
Kisah tadi, mengingatkan kita bahwa penundaan untuk menghentikan tindakan buruk hanya semakin mengokohkan keburukan itu sendiri dan melemahkan energi untuk merubahnya. Jangan menunggu waktu, jangan menunggu tua, karena setiap detik adalah kesempatan mengakarkan 'si pohon berduri' ditubuh kita. Ambillah 'kapak iman' segera sebelum terlambat. Penundaan hanya akan melahirkan ketidakberdayaan. Kelak saat kapak iman kita tak lagi tajam, tubuh pun terlanjur kehilangan kekuatan. Belantara pohon berduri kelak akan menusuk mata, telinga dan hati kita. Hingga menangis oleh kedukaan tak berujung. Tebaslah sekarang juga, karena waktu selalu menertawakan keringkihan kita.
(Oase Buletin "I See Buletin" edisi juni, IQRO Club Banjarbaru)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar